DPMPTSP Gelar FGD Identifikasi Masalah dan Isu Strategis 2027 Bersama Tim Penasehat Wali Kota

FGD ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan penanaman modal berdasarkan capaian kinerja 2021–2025 serta merumuskan isu strategis yang akan menjadi dasar penyusunan Rancangan Awal RKPD Kota Probolinggo Tahun 2027. Ia juga memaparkan arah pembangunan tahun 2027 yang mengusung visi Kota Probolinggo “tangguh, berkelanjutan, sejahtera, modern, dan adaptif”, dengan fokus peningkatan infrastruktur dasar dan penguatan ekonomi daerah.

DPMPTSP Gelar FGD Identifikasi Masalah dan Isu Strategis 2027 Bersama Tim Penasehat Wali Kota

 

DPMPTSP Kota Probolinggo hari ini (4/12) di ruang pertemuan DPMPTSP Kota Probolinggo menggelar Forum Group Discussion (FGD) Identifikasi Masalah dan Isu Strategis Tahun 2027. Kegiatan dibuka oleh Kepala DPMPTSP, Diah Sajekti Widowati Sigit, dan menghadirkan narasumber dari Tim Penasehat Wali Kota

 

Dalam sambutannya, Kepala DPMPTSP menjelaskan bahwa FGD ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan penanaman modal berdasarkan capaian kinerja 2021–2025 serta merumuskan isu strategis yang akan menjadi dasar penyusunan Rancangan Awal RKPD Kota Probolinggo Tahun 2027. Ia juga memaparkan arah pembangunan tahun 2027 yang mengusung visi Kota Probolinggo “tangguh, berkelanjutan, sejahtera, modern, dan adaptif”, dengan fokus peningkatan infrastruktur dasar dan penguatan ekonomi daerah. Menurutnya, forum ini penting untuk menyatukan analisis, menyepakati isu prioritas, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor agar investasi di Kota Probolinggo dapat tumbuh lebih optimal.

 

Narasumber pertama, Salamul Huda, menyoroti besarnya peluang investasi yang sebenarnya dapat dimanfaatkan Kota Probolinggo. Ia menyampaikan bahwa saat ini rata-rata 80 kapal bersandar setiap semester di Pelabuhan Probolinggo, yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi pintu masuk investasi di sektor logistik dan perdagangan. Ia juga menyinggung rencana pemanfaatan lahan pergudangan minimal satu hektare di tiap kelurahan, meningkatnya minat investor di sektor perhotelan, potensi rest area bagi bus dan truk, hingga peluang investasi di bidang hiburan seperti karaoke apabila regulasi daerah membuka ruang. “Probolinggo ini sedang dilewati, bukan disinggahi. Tugas kita adalah memastikan kota ini bisa menangkap peluang yang datang,” ujarnya.

 Sementara itu, narasumber kedua, Suyut, menekankan pentingnya menghadirkan rasa aman, kepastian regulasi, dan komunikasi yang terbuka bagi investor. Menurutnya, Perwali tentang insentif investasi dapat menjadi daya tarik selama bisa ditawarkan dengan jelas kepada calon investor. Ia juga mengusulkan adanya pojok investasi agar masyarakat dan pelaku usaha lebih nyaman berkonsultasi tanpa rasa canggung, mendorong UMKM untuk aktif mengikuti pameran, serta mengembangkan potensi wisata seperti petik mangga dan anggur. Selain itu, ia menekankan perlunya pengelolaan data daerah yang lebih terintegrasi melalui Dinas Kominfo agar informasi dapat diakses tanpa harus mengumpulkan OPD satu per satu. Untuk penguatan SDM, ia mengusulkan pemanfaatan lulusan SMK, serta pembuatan video profil dan video pendek untuk memperkuat promosi investasi.

 Melalui FGD ini, sejumlah tantangan penanaman modal juga teridentifikasi, mulai dari perlunya peningkatan kondusivitas dan kepastian hukum, ketersediaan infrastruktur pendukung investasi, hingga perlunya peningkatan promosi daerah dan penguatan koordinasi lintas instansi. Hasil diskusi ini akan menjadi masukan penting bagi penyusunan dokumen perencanaan pembangunan, khususnya Rancangan Awal RKPD Tahun 2027.

 Kegiatan FGD ditutup dengan harapan bahwa upaya bersama ini dapat memperkuat ekosistem investasi Kota Probolinggo, sehingga mampu menarik lebih banyak investor, menghadirkan pertumbuhan ekonomi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

LINK TERKAIT